POTO GUE

POTO GUE
"Kematian seperti cinta pertama yang mengubah segalanya"
Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Thursday, February 28, 2008

Benarkah Nabi SAW Manusia Biasa?

APAKAH Nabi saw hanya manusia biasa tidak ubah-nya seperti kita-kita? Demikian, mungkin keyakinan sebagian pihak. Biasanya mereka mengajukan ayat: “Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu. Hanya saja kepadaku disampaikan wahyu.” (QS. 18:110). Berdasarkan ayat ini dan tunjangan ayat-ayat senada, semisal “Katakan: ‘Mahasuci Tuhanku. Bukankah aku hanya seorang manusia yang diutus?” Kelompok ini percaya bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia biasa seperti manusia lainnya, dapat membuat kesalahan, kekeliruan, bahkan mungkin, na’udzubillah, pelanggaran. Oleh karena itu kelompok ini menuding para pemuja Nabi saw telah berlaku berlebih-lebihan dan pengkultusan yang tidak perlu. Benarkah demikian? Untuk itu kita harus melihatnya dari berbagai sisi.
Pertama, sejauh mana al-Quran mendudukkan posisi Nabi Muhammad saw, apakah hanya sebagai manusia biasa seperti manusia-manusia lainnya, atau sebagai manusia yang luar biasa, yang tidak dapat disamakan dengan manusia umum, bahkan dengan malaikat sekalipun?
Jika kita telusuri dengan seksama ayat-ayat yang menyinggung tentang Nabi saw atau malah riwayat-riwayat yang berkenaan dengan Nabi saw, maka dengan yakin kita akan menganut pandangan kedua dan menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad saw memang bukan manusia biasa. Ia adalah manusia utama, “superman” yang telah berhasil melewati tingkat umum manusia dan mencapai derajat keutamaan yang tiada taranya. Katakanlah insân kamîl. Tapi mengapa masih ada yang memandang Nabi saw sebagai manusia biasa? Kita akan melihatnya.
Kedua, apa yang dimaksud bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia, basyar, seperti manusia lainnya? Apakah maksudnya bahwa kedudukannya di mata Allah sama dengan manusia lainnya? Saya kira kelompok penolak pemujaan kepada Nabi pun tidak membenarkan anggapan seperti ini. Mereka juga yakin bahwa Nabi Muhammad adalah seorang rasul dan memiliki kedudukan yang sangat khusus di sisi Allah. Tapi mengapa mereka menganggap bahwa Nabi tidak ubahnya seperti manusia lain yang dapat lupa, salah, atau keliru? Kita coba mengkajinya.
Ketiga, bagaimana kita harus menyikapi Nabi Muhammad saw? Di satu sisi, ia adalah Nabi dengan kemuliaan yang tiada tara, tapi di sisi lain al-Quran menegaskan bahwa ia juga adalah manusia seperti kita. Kita akan sampai ke pembahasan ini setelah kita melewati pembahasan pertama dan kedua.

Kedudukan Nabi dalam al-Quran
Seperti yang telah kita singgung di atas, kedudukan Nabi Muhammad saw dalam al-Quran sungguh luar biasa. Terdapat puluhan ayat di dalam al-Quran yang memuja Nabi Muhammad saw, apakah dalam bentuk pujian langsung, seperti ayat yang menyatakan bahwa Nabi memiliki akhlak yang sangat luhur.
Atau dalam bentuk penyebutan sifat-sifat terpuji yang dimiliki Nabi. Berikut beberapa contoh keagungan Rasulullah sebagaimana dalam al-Quran.
Pertama, keimanan semua rasul kepada Nabi Muhammad SAW.
Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw berkata:
Setiap kali Allah mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Nabi Muhammad saw diutus, mereka akan ber-iman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama.
Untuk hal ini, Allah Swt. berfirman dalam QS. 3:81:
Dan ketika Allah mengambil janji dari para nabi: “Aku telah berikan kepada kalian al-kitab dan al-hikmah, maka ketika Rasul itu (Muhammad saw) datang kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, kalian benar-benar harus beriman kepadanya dan membelanya.” Dia (Allah) berkata: “Apakah kalian menerima dan berjanji akan memenuhi perintah-Ku ini?” Mereka berkata: “Ya, kami berjanji untuk melakukan itu.” Dia berkata: “Kalau begitu persaksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kalian.”
Kedua, kabar gembira tentang kedatangan Muhammad saw. Al-Quran menjelaskan bahwa para penganut Ahlul Kitab tahu betul tentang kedatangan Nabi Muhammad saw, sebagaimana mereka tahu betul siapa anak mereka. Bahkan mereka saling memberi kabar gembira tentang kedatangannya itu (QS. 2:89, 146). Dan itu pula yang dipintakan Nabi Ibrahim as dalam doanya:
Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (Muhammad) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana (QS. 2:129).
Ketiga, penciptaan Nabi Muhammad saw sebelum Nabi Adam as. Tetapi penciptaan itu masih dalam wujud “nûr” atau cahaya. Ketika Allah mencip-takan Adam, Ia menitipkan nur itu pada sulbi Adam yang kemudian berpindah-pindah dari satu sulbi ke sulbi yang lain hingga sulbi ‘Abdullah, ayah Nabi. Ibnu Abbas meriwayatkan:
Rasulullah saw bersabda:
Allah telah menciptakanku dalam wujud nur yang bersemayam di bawah ‘arasy dua belas ribu tahun sebelum menciptakan Adam as. Maka ketika Allah menciptakan Adam, Ia meletakkan nur itu pada sulbi Adam. Nur itu berpindah dari sulbi ke sulbi; dan kami baru berpisah setelah ‘Abdul Muthalib. Aku ke sulbi ‘Abdullah dan ‘Ali ke sulbi Abu Thalib.
Al-Quran menyebutkan bahwa sulbi-sulbi tempat bersemayamnya nur itu adalah sulbi-sulbi orang-orang suci. Ini berarti bahwa orangtua dan nenek moyang Rasulullah sampai ke Nabi Adam as. Istilah al-Quran, al-Sajidîn, orang-orang patuh. Allah berfirman:
Dan bertawakallah kepada Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu saat engkau bangun dan perpindahanmu dari sulbi ke sulbi orang-orang patuh (QS. 26:217-219).
Keempat, Nabi Muhammad saw adalah manusia suci. Tidak pernah berbuat kesalahan, apalagi dosa. Namun demikian, ia tetap manusia biasa seperti manusia lainnya, dalam arti bahwa secara biologis tidak ada perbedaan antara Nabi saw dengan yang lain. Allah berfirman dalam QS. 33:33:
Sesungguhnya yang dikehendaki Allah ialah menjauhkan kamu wahai Ahlul Bait dari segala kotoran dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.
Riwayat-riwayat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait pada ayat di atas adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan Nabi Muhammad saw sendiri.
Kelima, Nabi Muhammad selalu dibimbing Allah Swt. Ucapannya, perbuatannya, tutur katanya dan sebagainya semuanya di bawah pengarahan dan bimbingan Allah Swt.
Sesungguhnya dia (Muhammad) tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsu, melainkan semuanya semata-mata adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (QS. 53:3-4).
Keenam, Nabi Muhammad saw adalah panutan yang sempurna, uswatun hasanah. Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik buat kamu.” (QS.33:21). Karena itu, maka “Apa pun yang dibawanya harus kamu terima dan apa pun yang dilarangnya harus kamu jauhi.” (QS. 59:7)
Ketujuh, dibukanya rahasia kegaiban kepada Nabi Muhammad saw. Allah berfirman:
Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada rasul yang dikehendaki (QS. 72: 26-27).
Tentu saja Rasulullah saw berada di urutan paling atas di antara para rasul yang menerima anugrah utama ini.
Kedelapan, Allah memuji Nabi Muhammad saw dengan berbagai pujian karena keluhuran akhlak-nya (QS. 68:4); kepeduliannya dan kasih sayangnya kepada umat manusia (QS. 9:128) dan pengorbanan diri, tidak mementingkan diri demi kebahagiaan orang lain (QS. 20:2-3). Selain itu Allah Swt memberi perhatian yang khusus kepada Nabi Muhammad saw jika ada sedikit saja “masalah” yang dihadapinya (QS. 93:1-3; 94:1-4).
Kesembilan, siapa saja yang berhadapan dengan Nabi Muhammad saw maka berhadapan dengan Allah Swt. Sebaliknya, siapa saja yang membelanya, Allah berada di belakangnya. Firman Allah (QS. 9:61). Pada kesempatan lain, Allah bahkan mengancam kedua istri Rasulullah sendiri, ‘Aisyah dan Hafsah, karena mengkhianatinya dalam soal rahasia yang disampaikannya kepada mereka. Jika mereka tidak tobat dan masih melawan Rasulullah, maka Allah sendiri yang akan menghadapi mereka (QS. 66:4).
Kesepuluh, Allah bershalawat kepada Nabi. Demikian juga seluruh malaikatnya. Karena itu orang-orang yang beriman diperintahkan bershalawat kepadanya (QS. 33:56). Arti shala-wat Allah kepada Nabi adalah penganugrahan rahmat dan kasih sayang-Nya; shalawat malaikat adalah permohonan limpahan rahmat-Nya. Demikian pula shalawat orang-orang beriman.
Kesebelas, orang-orang beriman diperintahkan untuk tidak memperlakukan Rasulullah sebagaimana perlakuan mereka terhadap sesama mereka. Jika berbicara kepada Rasul ha-rus dengan suara yang pelan, tidak boleh teriak-teriak, karena hal itu akan menghapus pahala amal mereka (QS. 49:2-3).
Kedua belas, Allah akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati Nabi. “Dan tuhanmu akan memberimu sehingga membuatmu senang” (QS. 93:5). Ayat ini menunjukkan betapa Allah amat mencintai Nabi-Nya. Ia akan memberikan apa saja yang diinginkan Nabi dan akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati Nabi saw. Dan salah satu anugrah Allah yang paling besar kepada Nabi ialah wewenang memberi syafaat kepada umatnya yang berdosa. Bukan saja di akhirat, tapi juga di dunia, yaitu dalam bentuk pengabulan doa yang disampaikan oleh Nabi untuk umatnya, baik ketika Nabi masih hidup maupun sesudah wafatnya.
Ketiga belas, Nabi saw ditetapkan sebagai perantara (wasilah) antara diri-Nya dengan manusia. Bahkan merupakan salah satu syarat terkabulnya doa.
Kami tidak utus seorang rasul kecuali untuk ditaati, dengan seizin Allah. Dan seandainya mereka mendatangimu ketika mereka berbuat dosa, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun buat mereka, pastilah mereka dapati Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih (QS. 4:64).
Bahkan tawassul kepada Nabi Muhammad saw ini sudah dilakukan para nabi dan orang-orang salih jauh sebelum kelahirannya. Kita dapat membaca riwayat yang mengatakan bahwa Adam dan Hawa telah bertawassul kepada Nabi Muhammad saw saat mereka berdua dikeluarkan dari surga. Dikisahkan bahwa tatkala Nabi Adam as dikeluarkan dari surga, ia memohon ampun kepada Allah atas perbuatanya. Dalam permohonannya itu, ia bertawassul melalui Nabi Muhammad saw: “Ya Allah, melalui kebesaran Muhammad, aku mohon ampun pada-Mu kiranya Engkau ampuni dosaku.”
Allah Swt bertanya kepada Adam, “Dari mana kamu tahu Muhammad padahal Aku belum menciptakannya?”
Adam berkata, “Tuhanku, ketika Engkau ciptakan aku dengan tangan-Mu dan Engkau tiupkan ruh-Mu dalam diriku, aku mengangkatkan kepalaku dan kulihat di pilar-pilar Arsy tertulis Lâ ilâha illallâh Muhammad Rasûlullâh. Aku tahu Engkau tidak akan menyertakan nama hamba-Mu kepada nama-Mu kecuali yang paling Engkau cintai.”
Allah Swt berkata, “Engkau benar, Adam. Muhammad adalah hamba yang paling Aku cintai. Dan karena engkau memohon ampun melaluinya, maka Aku kabulkan permohonanmu. Hai Adam, kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu.”
Nabi Sebagai Manusia Biasa
Dari sekian ayat yang kita lihat di atas tidak dapat disangkal bahwa Nabi Muhammad saw bukan manusia biasa, dalam arti bahwa kedudukannya sangat-sangat mulia di sisi Allah. Ia telah diciptakan Allah sebelum menciptakan yang lainnya. Nabi telah dipersiapkan membawa amanat-Nya jauh sebelum utusan-utusan lainnya. Bahkan utusan-utusan itu diperintahkan untuk mengimaninya dan mengabarkan kepada umat manusia kedatangannya. Nabi ditetapkan sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan, dan sebagainya. Akan tetapi semua ini tidak harus membuat kita memposisikannya sebagai bukan dari golongan manusia, seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi ‘Isa as.
Nabi Muhammad saw tetap manusia sebagaimana manusia lainnya, sebagaimana isyarat al-Quran dalam beberapa ayatnya di atas. Pada diri Nabi Muhammad saw terdapat segala sesuatu yang ada pada manusia, yakni dimensi biologis manusia. Karena itu Nabi makan, minum, sakit, tidur, berdagang, berkeluarga, senang, sedih, dan sebagainya, seperti umumnya manusia. Al-Quran sengaja menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia, basyar, seperti manusia lainnya untuk membantah alasan penolakan kaum musyrikin terhadap Nabi saw bahwa ia bukan dari golongan malaikat atau paling tidak bekerjasama dengan malaikat (QS. 25:7) dan juga mengingatkan kaum Muslimin supaya tidak mengulangi kesalahan seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi ‘Isa yang menganggapnya sebagai Tuhan.
Akan tetapi ketika kita mengatakan bahwa Nabi adalah manusia biasa seperti manusia lainnya tidak berarti bahwa kita harus menganggapnya salah, keliru, melanggar, atau berakhirlah segalanya sesudah ia wafat. Sama sekali tidak demikian. Kesucian, keterpeliharaan dari dosa, maksum, hidup abadi bersama Allah sesudah kematian atau kemampuan berhubungan dengan-Nya sesudah kematian adalah perkara ruhani yang dapat saja dicapai oleh manusia manapun jika ia telah mencapai kedudukan ruhani yang tinggi atau katakanlah maqam Insan Kamil. Allah Swt memang menciptakan manusia dari unsur tanah, yang menghasilkan dimensi biologisnya, akan tetapi pada manusia, Allah ciptakan juga unsur lainnya, yakni ruh Allah, yang justru dapat membuat manusia lebih tinggi dari makhluk manapun, termasuk malaikat. Yaitu jika melalui ruh itu ia mampu mengatasi unsur biologisnya. Itulah mengapa malaikat dan jin atau Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam atau manusia. Itulah pula mengapa Nabi Muhammad dapat menembus Sidratul-Muntaha, sementara Jibril akan hangus terbakar jika berani mencoba melangkahkan kaki meskipun hanya setapak. Padahal Jibril adalah penghulu para malaikat. Karena Nabi Muhammad SAW telah mencapai derajat kesempurnaan mutlak insani.
Kesalahan terbesar pihak yang menolak mengakui kebesaran Nabi Muhammad di atas dan menolak memujanya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharamkan, yaitu karena mereka melihat Nabi Muhammad saw dengan kacamata materi. Mereka hanya melihat Nabi saw sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi ruhani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.
Melihat seorang hanya dari dimensi biologisnya adalah logika orang-orang kafir. Bukan logika orang-orang beriman. Dengan alasan bahwa para utusan itu hanya manusia seperti mereka, orang-orang kafir menolak mengakuinya sebagai nabi atau rasul.
Dan tidaklah menghalangi orang-orang (kafir) untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali mereka mengalaskan: Apakah Allah mengutus rasul dari golongan manusia? (QS. 17:94).
Tapi orang-orang beriman berkata: “Kami mengimani-nya. Semuanya dari sisi Tuhan kami”. (QS. 3:7).
Sikap kepada Nabi
Berdasarkan beberapa ayat tentang keagungan Nabi Muhammad saw di atas dan beberapa riwayat Nabi, kita dapat melihat betapa Allah menuntut kita untuk menghormati dan mengagungkan rasul-Nya. Coba perhatikan ayat shalawat. Adakah perintah yang sama dengan perintah shalawat, yaitu yang didahului dengan pernyataan bahwa Allah dan malaikat-Nya telah melakukannya terlebih dahulu dan oleh karena itu kita pun diperintahkan untuk melakukannya, selain shalawat kepada Nabi? Tidak ada. Perintah itu berarti kita harus selalu melihat Nabi dengan penuh takzim dan agar kita selalu membalas jasa-jasanya. Oleh karena itu pula, Nabi saw selalu mengingatkan bahwa orang yang tidak mau bershalawat kepadanya adalah bakhil atau kikir. Bahkan orang yang datang ke tanah suci tapi tidak mampir ke Madinah untuk berziarah kepadanya telah memutus hubungan silaturrahmi dengannya.
Pada ayat tawassul kita bahkan diperingatkan Allah jika ingin dosa-dosa kita diampuni oleh-Nya harus bertawassul kepadanya. Jika tidak, Allah tidak akan mengabulkan permohonan ampun kita. Allah juga mengingatkan agar kita tidak memperlakukannya sama dengan kita, sebab hal itu dapat menghapus pahala amal ibadah kita (QS. 49:2-3). Selain itu, kita juga diperingatkan untuk tidak menganggap apa yang dilakukan atau diucapkannya lahir karena emosi atau hawa nafsunya. Tapi semuanya atas bimbingan Allah yang tidak pernah salah.
Ia tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu yang diterimanya (QS. 53:3-4).
Dengan demikian, yang mengagungkan dan memerintahkan kita untuk mengagungkan Nabi Muhammad saw adalah Allah Swt sendiri. Bukan kita. Kita hanya mengikuti perintah dan ajaran-Nya saja. Lalu mengapa kita harus menentang Allah dan Rasul-Nya hanya karena takut jatuh dalam hantu “kultus” yang kita ciptakan sendiri? Sebenarnya tidak ada kultus; karena kultus ialah melebih-lebihkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pengagungan Nabi Muhammad saw justeru mendudukkan posisi Nabi Muhammad saw sebagaimana mestinya, seperti diperintahkan al-Quran. Justru jika kita tidak melakukan itu, dikhawatirkan telah menzalimi beliau.
Sesungguhnya orang-orang yang menggangu Allah dan rasul-Nya dikutuk oleh Allah di dunia maupun di akhirat dan Allah siapkan baginya siksa yang menghinakannya (QS. 33:57).
Sebagai penutup renungkan peristiwa yang terjadi pada zaman Nabi saw di bawah ini. ‘Abdullah bin Amr berkata:
Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah saw. Aku bermaksud menghapalnya. Tapi orang-orang Quraisy melarangku dan mereka berkata: “Engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah saw? Padahal beliau hanyalah seorang manusia yang berbicara saat marah dan senang.” Aku berhenti menulis. Tetapi kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah. Ia kemudian menunjuk kepada mulutnya dan berkata: “Tulis saja. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tidak ada yang keluar dari sini kecuali kebenaran.” Camkan!

Umar Shahab

Tuesday, March 06, 2007

"BUANG ANGIN" dan AKHLAQ

"BUANG ANGIN" dan AKHLAQ

As-Sayyidul Wujud, Rasululullah SAW pernah bersabda: "Innakum lan tas'awun naasa bi amwaalikum wa anfusikum fas'auhum bi akhlaaqikum", yang terjemahan bebasnya adalah kira2: Engkau tidak akan berhasil mempengaruhi orang selamanya dengan harta2mu dan diri2mu, tapi pengaruhi mereka dengan akhlak mu. Pengaruh yang ditanamkan dengan menggunakan harta atau diri/fisik seseorang hanya akan berhasil sesuai dengan umur dari keduanya tsb. Begitu harta habis, begitu diri/fisik sudah tidak menarik lagi, maka pengaruh orang tsb pun akan ikut hilang pula bersamanya.

Dikisahkan pada zaman Muawiyyah, terdapat seseorang bernama Abu al-Aswad. Beliau adalah seorang ahli tata bahasa Arab (nahwu) yang terkenal. Pada suatu hari dia memenuhi panggilan Muawiyyah untuk suatu urusan. Ketika sedang berbincang-bincang, tanpa ia sadari dan sengaja, dia keluar angin (maaf : kentut). Sialnya suara kentut nya tersebut terdengar oleh Muawiyyah. Karena "buang angin" merupakan sebuah aib yang memalukan bagi bangsa Arab, maka Abu Al-Aswad memohon kepada Mu'awiyyah untuk tidak menceritakan kejadian barusan kepada orang lain. Dan kemudian Mu'awiyyah mengiyakannya seraya bersumpah demi Allah untuk tidak menceritakan kejadian yang memalukan Abu al-Aswad tsb kepada orang lain.

Esok paginya, ketika Abu al-Aswad kembali datang ke kediaman Muawiyyah, dia bertemu dengan Amr bin Ash. Lalu Amr bin Ash berkata kepada abu al-Aswad "Hai Abu aswad, Kemana perginya angin itu ?". Pertanyaan tersebut kontan membuat abu al-aswad merah padam karena malu, dan juga marah kepada Muawiyyah yang telah bersumpah untuk tidak membuka rahasia ini kepada siapa pun. Lalu Abu al-Aswad menemui Muawiyyah dan berkata : "Kalau masalah 'angin' saja engkau telah berani berbohong di bawah sumpah, bagaimana aku akan percaya apabila engkau menjadi pemimpin ?!".

Pada peristiwa yang lain, dikisahkan ketika Umar b. Khaththab mengimami shalat, terdengar bunyi suara kentut dari arah makmum. selesai shalat Umar berkata : "Siapa tadi yg merasa kentut agar berdiri, mengambil wudhu dan shalat lagi!"

Tak seorangpun yg berani berdiri, lalu Jarir b. Abdullah berkata pada Umar: "wahai amirul mukminin, mengapa tidak kita semua wudhu lalu bersama-sama shalat lagi. Shalat kita yg tidak kentut akan menjadi shalat sunnah, sadang kawan kita yg kentut bisa mengqadha salatnya".

Mendengar saran bijak dari Jarir, Umar pun memujinya: Semoga Allah merahmatimu, kau orang terhormat di zaman Jahiliyah dan arif di zaman Islam.

Sepertinya Jarir telah meneladani Rasulullah SAW dalam berakhlak mulia. Diriwayatkan pernah ada suatu peristiwa dimana Al-Rasul SAW beserta sahabat-sahabatnya sedang diundang untuk makan daging Onta oleh seorang sahabat yang lain. Jamuan tersebut dilakukan di dekat Masjid Quba pada saat menjelang waktu Maghrib. Ketika Beliau tengah makan, salah seorang dari sahabat "buang angin" sehingga baunya tercium oleh Beliau dan sahabat-sahabat lainnya. Karena waktu Ashar sudah habis dan sebentar lagi akan dilakukan shalat maghrib, yang dengan demikian sahabat akan tahu siapa yang buang angin tadi karena dia harus berwudhu lagi. Untuk menjaga perasaan orang ini supaya tidak dipermalukan oleh sahabat-sahabat yang lain (karena "buang angin" merupakan aib besar menurut adat istiadat bangsa Arab), maka Al-Rasul SAW bersabda bahwa barangsiapa yang makan daging onta ini maka dia harus mengambil Wudhu lagi. Karena semua sahabat makan daging Onta tersebut, maka semuanya mengambil Wudhu kembali dan terhindarlah orang tersebut dari aib. ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD.

Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran : "Laqad Kaana fi ar-Rasulullahi Uswatun Hasanah...". Bahwa di dalam diri Rasulullah SAW itulah kamu akan mendapati contoh teladan yang baik dan mulia. Semoga kita bisa meneladaninya

Sunday, March 04, 2007

Nabi Muhamad dalam Pandangan Agama-Agama Terdahulu

Nabi Muhamad dalam Pandangan Agama-Agama Terdahulu
Berbagai sumber ilmu kalam dan filsafat menyebutkan banyak dalil dan bukti kebenaran nubuwwah atau kenabian Muhammad SAWW. Di antara argument terpenting ini, dalam pandangan ulama dan cendekiawan muslimin, ialah kesaksian para Nabi terdahulu dan ulama serta tokoh masyarakat zaman lalu, demikian pula ulama Ahli Kitab, berkenaan dengan risalah dan nubuwwah Muhammad SAWW. Dalam acara kita kali ini kita akan berusaha mempelajari ucapan para Nabi dan ulama di kalangan umat terdahulu berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad SAWW.
Al-Quranul karim mengatakan:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ

"Orang-orang yang mengikuti Rasulk ini, Nabi yang Ummi, yang mereka dapatkan namanya tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka." (Al-A'raf 157).

Dalam pandangan Al-Quranul Karim, kaum dan para Nabi terdahulu berkewajiban beriman kepada risalah Nabi Besar Muhammad SAWW, dan Allah swt telah mengambil perjanjian tegas dengan mereka semua bahwa jika Nabi tersebut lahir dan muncul dengan risalahnya, maka mereka harus beriman dan menerima ajaran yang ia bawa. Berkenaan dengan perjanjian yang Allah berikan kepda para Nabi terdahulu ini, Allah swt berfirman dalam Al-Quran:

وَإِذْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّيْنَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُواْ أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُواْ وَأَنَاْ مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

Yang artinya, "Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dengan para Nabi bahwa semua Kitab dan hikmah yang Aku berikan kepada kalian, kemudian datang kepada kalian seorang utusan yang membenarkan apa yang ada pada kalian, maka kalian harus beriman kepadanya dan membantunya." Kemudian Allah berkata, "Apakah kalian berikrar dan menerima perjanjian-Ku berkenaan dengan masalah ini?" Mereka menjawab, "Kami berikrar." Lalu Allah berkata, "Maka saksikanlah, dan Aku bersama kalian ikut pula menyaksikan."

Tampak sekali dari gaya bahasa dalam Ayat tersebut bahwa perjanjian yang Allah buat dengan para Nabi terdahulu ini sangat tegas dan ketat; bahwa mereka akan beriman dan membantu Nabi yang dijanjikan ini, yang tak lain adalah Nabi Besar Muhammad SAWW. Pada hakekatnya, Rasul Allah Muhammad SAWW adalah Nabi penutup, yang paling tinggi dan pemimpin semua Nabi dan Rasul. Berdasarkan berbagai riwayat terpercaya, di akherat pun seluruh umat bersama para Nabinya akan bergabung di bawah bendera Islam. Sangat dikenal kisah tentang isra' dan mi'raj, dimana ketika Nabi Muhammad SAWW tiba di Masjid Al-Aqsha, beliau bertemu dengan para Nabi besar terdahulu, termasuk Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa alaihimussalam. Kemudian mereka melakukan salat berjamaah dimana Rasul Allah Muhammad SAWW tampil sebagai imam dan mereka semua bermakmum\n kepada beliau.",1]);

وَإِذْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّيْنَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُواْ أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُواْ وَأَنَاْ مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

Yang artinya, "Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dengan para Nabi bahwa semua Kitab dan hikmah yang Aku berikan kepada kalian, kemudian datang kepada kalian seorang utusan yang membenarkan apa yang ada pada kalian, maka kalian harus beriman kepadanya dan membantunya." Kemudian Allah berkata, "Apakah kalian berikrar dan menerima perjanjian-Ku berkenaan dengan masalah ini?" Mereka menjawab, "Kami berikrar." Lalu Allah berkata, "Maka saksikanlah, dan Aku bersama kalian ikut pula menyaksikan."

Tampak sekali dari gaya bahasa dalam Ayat tersebut bahwa perjanjian yang Allah buat dengan para Nabi terdahulu ini sangat tegas dan ketat; bahwa mereka akan beriman dan membantu Nabi yang dijanjikan ini, yang tak lain adalah Nabi Besar Muhammad SAWW. Pada hakekatnya, Rasul Allah Muhammad SAWW adalah Nabi penutup, yang paling tinggi dan pemimpin semua Nabi dan Rasul. Berdasarkan berbagai riwayat terpercaya, di akherat pun seluruh umat bersama para Nabinya akan bergabung di bawah bendera Islam. Sangat dikenal kisah tentang isra' dan mi'raj, dimana ketika Nabi Muhammad SAWW tiba di Masjid Al-Aqsha, beliau bertemu dengan para Nabi besar terdahulu, termasuk Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa alaihimussalam. Kemudian mereka melakukan salat berjamaah dimana Rasul Allah Muhammad SAWW tampil sebagai imam dan mereka semua bermakmum kepada beliau.
\nImam Ali as juga pernah berkata, "Allah swt tidak pernah mengutus seorang Nabi pun, sejak Adam hingga Isa as, kecuali mengambil perjanjian dengannya bahwa jika ia bertemu dengan Nabi terakhir, maka ia dan semua pengikutnya harus beriman kepadanya dan membantunya." Pada saat Nabi Ibrahim as membangun Ka'bah di Makkah, beliau berdoa dan bermunajat kepada Allah. Dalam doa dan munajatnya ini, beliau menyinggung tentang Nabi Besar Muhammad SAWW, sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran, Surat Al-Baqarah Ayat 129, yang artinya, "Ya Allah, utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan Ayat-Ayat-Mu kepada mereka, dan mengajarkan Al-Kitab dan hikmah serta mebersihkan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Agung dan Maha Bijaksana."\nDalam berbagai kitab sejarah disebutkan seorang bernama Ka'ab bin Ghalib, salah seorang alim dari Ahli Kitab, yang hidup dimasa sebelum kelahiran Nabi Besar Muhammad SAWW. Dikatakan bahwa dia ini memiliki pengetahuan luas tentang ajaran tauhid Nabi Ibrahim as, juga Nabi Musa dan Isa as. Dia membaca kitab-kitab dan mempelajari ajaran-ajaran para Nabi Besar tersebut, termasuk yang berkenaan dengan berita tentang kedatangan seorang Nabi akhir zaman, dan penutup segala Nabi dan Rasul. Karena mempelajari kitab-kitab para Nabi terdahulu itulah, ia juga menyatakan beriman kepada Nabi terakhir ini, padahal Nabi tersebut belum lahir ke dunia. Kisah tentang Ka'ab bin Ghalib ini dapat dibaca dalam kitab Subulul Huda war Rasyaad, jilid satu halaman 96, juga kitab Hayaatul Quluub, tulisan Allamah Majlisi, jilid 2 halaman\n 62.\nHampir mirip dengan kisah Ka'ab bin Ghalib ini, ialah kisah tentang Rahib Bukhaira, yang melihat Rasul Allah SAWW ketika masih kecil. Rahib Bukhaira adalah seorang yang selalu menunggu dan menanti kedatangan seorang Nabi yang ia ketahui dari Kitab-Kitab suci para Nabi terdahulu, bahwa ia akan datang di salah satu tempat di jazirah Arab. Ciri-ciri fisik dan sifat-sifat serta perangai Nabi terakhir ini pun ia pelajari dania hafal dengan baik. Untuk itulah begitu ia melihat sekilas saja Nabi Muhammad SAWW yang masih kecil, maka ia merasa pasti bahwa orang inilah yang selama ini ia nantikan. Ketika ia mempelajari lebih jauh tentang anak kecil ini dengan mengujinya dan mengajukan beberapa pertanyaan, maka ia yakin seratus persen bahwa Muhammad ini bakal muncul sebagai Nabi terakhir dan paling mulia diantara seluruh Nabi. Untuk itu\n ia menasehatkan kepada Abu Talib, paman Nabi SAWW, agar berhati-hati dan lebih baik segera membawanya pulang untuk menghindari kejahatan orang-orang yang ingkar.",1]);


Imam Ali as juga pernah berkata, "Allah swt tidak pernah mengutus seorang Nabi pun, sejak Adam hingga Isa as, kecuali mengambil perjanjian dengannya bahwa jika ia bertemu dengan Nabi terakhir, maka ia dan semua pengikutnya harus beriman kepadanya dan membantunya." Pada saat Nabi Ibrahim as membangun Ka'bah di Makkah, beliau berdoa dan bermunajat kepada Allah. Dalam doa dan munajatnya ini, beliau menyinggung tentang Nabi Besar Muhammad SAWW,
sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran, Surat Al-Baqarah Ayat 129, yang artinya,

"Ya Allah, utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan Ayat-Ayat-Mu kepada mereka, dan mengajarkan Al-Kitab dan hikmah serta mebersihkan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Agung dan Maha Bijaksana."

Dalam berbagai kitab sejarah disebutkan seorang bernama Ka'ab bin Ghalib, salah seorang alim dari Ahli Kitab, yang hidup dimasa sebelum kelahiran Nabi Besar Muhammad SAWW. Dikatakan bahwa dia ini memiliki pengetahuan luas tentang ajaran tauhid Nabi Ibrahim as, juga Nabi Musa dan Isa as. Dia membaca kitab-kitab dan mempelajari ajaran-ajaran para Nabi Besar tersebut, termasuk yang berkenaan dengan berita tentang kedatangan seorang Nabi akhir zaman, dan penutup segala Nabi dan Rasul. Karena mempelajari kitab-kitab para Nabi terdahulu itulah, ia juga menyatakan beriman kepada Nabi terakhir ini, padahal Nabi tersebut belum lahir ke dunia. Kisah tentang Ka'ab bin Ghalib ini dapat dibaca dalam kitab Subulul Huda war Rasyaad, jilid satu halaman 96, juga kitab Hayaatul Quluub, tulisan Allamah Majlisi, jilid 2 halaman 62.
Hampir mirip dengan kisah Ka'ab bin Ghalib ini, ialah kisah tentang Rahib Bukhaira, yang melihat Rasul Allah SAWW ketika masih kecil. Rahib Bukhaira adalah seorang yang selalu menunggu dan menanti kedatangan seorang Nabi yang ia ketahui dari Kitab-Kitab suci para Nabi terdahulu, bahwa ia akan datang di salah satu tempat di jazirah Arab. Ciri-ciri fisik dan sifat-sifat serta perangai Nabi terakhir ini pun ia pelajari dania hafal dengan baik. Untuk itulah begitu ia melihat sekilas saja Nabi Muhammad SAWW yang masih kecil, maka ia merasa pasti bahwa orang inilah yang selama ini ia nantikan. Ketika ia mempelajari lebih jauh tentang anak kecil ini dengan mengujinya dan mengajukan beberapa pertanyaan, maka ia yakin seratus persen bahwa Muhammad ini bakal muncul sebagai Nabi terakhir dan paling mulia diantara seluruh Nabi. Untuk itu ia menasehatkan kepada Abu Talib, paman Nabi SAWW, agar berhati-hati dan lebih baik segera membawanya pulang untuk menghindari kejahatan orang-orang yang ingkar.

Suatu hari Rasul Allah SAWW beserta sejumlah sahabat di Madinah, menuju ke sebuah tempat ibadah kaum Yahudi dan menyaksikan mereka tengah membaca Kitab Taurat Nabi Musa as. Ketika mereka melihat Rasul Allah datang, mereka diamdan tidakmelanjutkan pembacaan Taurat. Rasul Allah bertanya kepada mereka, "Mengapa kalian menghentikan bacaan kalian?" Semua mereka diam dan tidak menjawab. Di salah satu sudut kuil Yahudi itu seorang lelaki yang tengah sakit berbaring. Ketika ia melihat teman-temannya terdiam, ia bangun dari tempat pembaringannya dan berkata, "Wahai Muhammad. Bacaan mereka itu tadi telah sampai pada bagian yang berbicara tentang ciri-cirimu. Ketika mereka melihat kau datang, mereka tidak ingin membacakannya dengan kehadiranmu dan sahabatmu, karena yang demikian itu akan merupakan dukungan kepada\n risalahmu."\nKemudian orang itu mengambil sebuah kitab Taurat dan dengan susah payah membacakannya di depan Nabi, semua yang berkenaan dengan keutamaan Nabi. Lalu ia berkata, "Wahai Muhammad, inilah sifat-sifat dan ciri-cirimu, serta ajaran dan umatmu. Saat ini juga aku bersaksi bahwa Tuhan adalah satu dan engkau adalah utusan-Nya." Kemudian ia berhenti dan tampak semakin kepayahan seraya tersengal-sengal, lalu ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Rasul Allah SAWW memerintahkan kepada para sahabat beliau agar mengurus jenazah orang Yahudi berhati bersih dan terang ini dengan cara-cara Islam. Kemudian beliau menyalatinya dan menguburkannya di kuburan muslimin.\nAbdullah bin Umar juga berkata, "Demi Allah, cirri-ciri Rasul Allah SAWW dalam Taurat Nabi Musa as, sama persis sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quranul Karim dimana Allah swt berfirman, "Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa peringatan dan kabar kembira." (Surat Al-Ahzab, Ayat 45). Dalam kitab Taurat, selain sifat-sifat mulia Nabi SAWW, terdapat pula firman Allah swt yang mengatakan, "Engkau (Muhammad) adalah tonggak dan tiang yang kokoh bagi kota Makkah, dan engkau adalah hamba dan utusan-Ku. Engkau Kuberi nama "Mutawakkil"",1]);


Suatu hari Rasul Allah SAWW beserta sejumlah sahabat di Madinah, menuju ke sebuah tempat ibadah kaum Yahudi dan menyaksikan mereka tengah membaca Kitab Taurat Nabi Musa as. Ketika mereka melihat Rasul Allah datang, mereka diamdan tidakmelanjutkan pembacaan Taurat. Rasul Allah bertanya kepada mereka, "Mengapa kalian menghentikan bacaan kalian?" Semua mereka diam dan tidak menjawab. Di salah satu sudut kuil Yahudi itu seorang lelaki yang tengah sakit berbaring. Ketika ia melihat teman-temannya terdiam, ia bangun dari tempat pembaringannya dan berkata, "Wahai Muhammad. Bacaan mereka itu tadi telah sampai pada bagian yang berbicara tentang ciri-cirimu. Ketika mereka melihat kau datang, mereka tidak ingin membacakannya dengan kehadiranmu dan sahabatmu, karena yang demikian itu akan merupakan dukungan kepada risalahmu."
Kemudian orang itu mengambil sebuah kitab Taurat dan dengan susah payah membacakannya di depan Nabi, semua yang berkenaan dengan keutamaan Nabi. Lalu ia berkata, "Wahai Muhammad, inilah sifat-sifat dan ciri-cirimu, serta ajaran dan umatmu. Saat ini juga aku bersaksi bahwa Tuhan adalah satu dan engkau adalah utusan-Nya." Kemudian ia berhenti dan tampak semakin kepayahan seraya tersengal-sengal, lalu ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Rasul Allah SAWW memerintahkan kepada para sahabat beliau agar mengurus jenazah orang Yahudi berhati bersih dan terang ini dengan cara-cara Islam. Kemudian beliau menyalatinya dan menguburkannya di kuburan muslimin.
Abdullah bin Umar juga berkata, "Demi Allah, cirri-ciri Rasul Allah SAWW dalam Taurat Nabi Musa as, sama persis sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quranul Karim dimana Allah swt berfirman, "Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa peringatan dan kabar kembira." (Surat Al-Ahzab, Ayat 45). Dalam kitab Taurat, selain sifat-sifat mulia Nabi SAWW, terdapat pula firman Allah swt yang mengatakan, "Engkau (Muhammad) adalah tonggak dan tiang yang kokoh bagi kota Makkah, dan engkau adalah hamba dan utusan-Ku. Engkau Kuberi nama "Mutawakkil"
\nSelanjutnya, Taurat melanjutkan puji-pujiannya kepada Rasul Allah SAWW dengan mengatakan, "Allah swt tidak akan mencabut nyawanya, kecuali setelah ia membimbing bangsa yang terkebelakang dan sesat kea rah jalan lurus, dan memperkenalkan kepada mereka ajaran tauhid "laa ilaaha illallaah". Ia akan membuka mata orang-orang yang buta, dan membersihkan hati yang berkarat dan menyembuhkannya dari penyakit. Ia juga membuka telinga-telingan yang tuli untuk mendengarkan ajaran-ajaran yang haq." Demikianlah sebagian dari isi Kitab Taurat berkenaan dengan keutamaan dan sifat-sifat mulia Rasul Allah SAWW, sebagaimana diceritakan dalam beberapa hadits yang dapat kita temukan dalam kitab Shahih Bukhari jilid 3 halaman 21; juga Musnad Ahmad, jilid 2 1]);

. Engkau bukan orang yang kasar dank eras hati, dan engkau tidak pernah berbicara keras di hadapan orang lain. Engkau tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Pemberian maaf dan lapang dada adalah kebiasaanmu."
Selanjutnya, Taurat melanjutkan puji-pujiannya kepada Rasul Allah SAWW dengan mengatakan, "Allah swt tidak akan mencabut nyawanya, kecuali setelah ia membimbing bangsa yang terkebelakang dan sesat kea rah jalan lurus, dan memperkenalkan kepada mereka ajaran tauhid "laa ilaaha illallaah". Ia akan membuka mata orang-orang yang buta, dan membersihkan hati yang berkarat dan menyembuhkannya dari penyakit. Ia juga membuka telinga-telingan yang tuli untuk mendengarkan ajaran-ajaran yang haq." Demikianlah sebagian dari isi Kitab Taurat berkenaan dengan keutamaan dan sifat-sifat mulia Rasul Allah SAWW, sebagaimana diceritakan dalam beberapa hadits yang dapat kita temukan dalam kitab Shahih Bukhari jilid 3 halaman 21; juga Musnad Ahmad, jilid 2

Friday, January 19, 2007

waktu terjaga

Bismihi Ta'ala.
"Wa i'tasimu bihablilLahi jami'an wala tafarrraqu".
Dengan memperhatikan lengkah dan rancana busuk musuh Islam yang mehendak menciptakan perpecahan dan permusuhan diantara mazhab dan kelompok Islam maka setiap muslimin harus mempertajam sensitifitas dan pandangan politiknya melebihi dari hari-hari yang lalu.
Pengerahan kekuatan militer Amerika, Israel dan Inggris ke dunia Islam yang membunuh muslimin di Iraq, Afganistan dan Libanon dengan tidak membawa kemenangan bagi mereka tapi malah membangkitkan muslimin sehingga mereka menjadi negara yang sangat dibenci di daerah itu.
Rencana-rencana penjajahan Amerika di Palestina menghadapi jalan buntu, perang 33 hari Israel terhadap rakyat Libanon merupakan kekalahan besar dalam sejarah bagi mereka .
Gelombang kebangkitan Islam dan penentangan kepada musuh Islam telah memuncak di seluruh dunia Islam. Agen dan antek penjajah di daerah penting seperti Timur Tengah telah kehabisan akal dengan kekalahan demi kekalahan yang dihadapinya. Rencana dengan melumpuhkan gerakan seperti Revolusi Islam (Iran) dan dunia Islam telah kehilangan warnanya, malah dari hari ke hari semakin terlihat meningkatnya semangat dan jiwa pertahanan kehormatan dan menghidupkan kemuliaan serta indentitas Islam. Keadaan ini menjadikan Amerika dibantu dengan Israel dan Inggris memulai rencanannya untuk menciptakan gerakan yang dapat memicu pertentangan dan pertumpahan darah diantara saudara muslimin.
Muslimin baik Sunnah maupun Syiah harus menyadari bahwa segitiga Amerika, Israel dan Inggris merupakan musih Islam yang asli dan mereka memusuhi Islam. Mereka tidak memilih apakah itu sunnah ataupun Syiah. Bom, roket dan terror mereka yang membunuh rakyat Afganistan, Somalia dan Bosnia yang Sunni sebagaimana mereka membunuh orang Libanon dan Iraq yang Syiah.
Sangat disayangkan dimana sebagian saudara kita tidak dapat melihat hal yang sudah jelas ini yang mana bagi Amerika darah Sunni dan Syiah sama adanya. Amerika ingin menghancurkan keduanya. Amerika menginginkan terjadinya terjadinya perpecahan dan diikuti pertumpahan darah di Timur Tengah yang dahsyat dan kemudian mereka akan mendirikan perusahan Zionis yang besar kemudian dapat keluar dari lubang kubur Timur Tengah.
Amerika hatinya tidak terharu pada Syiah dan juga Sunnah. Kekuatan Syaitan dan penjajah ini hanya ingin muslimin dan menghancurkan negara Islam.
Muslimin tidak boleh terpengaruh oleh hasutan dan termakan oleh slogan serta komentar yang memalingkan kita dari musuh asli yaitu Amerika dan Zionis.
Hari ini semua muslimin negara Islam di Afghanistan, Iraq, Iran Saudia hingga Pakistan, Libanon, Turki, Palestina dan………….harus dalam satu saf (baca : barisan) menghadapai rencana buruk perpecahan yang sangat berbahaya Amerika di dunia Islam serta menyatakan penentangan hegemoni syaitan ini. Kekuatan syaitan ini ingin menciptakan perpecahan dan pertikaian berdarah di Timur Tengah sehingga Zionis dapat dengan mudah menguasai satu milyard muslimin.
Muslimin dunia baik Sunnah ataupun Syiah harus mengikrarkan ikatan persatuannya.
Amerika, Inggris dan Israel tidak akan menguntungkan dunia Islam dan tidak akan…..maka hingga kapan kita akan berada dalam tidur dan alpa sehingga Islam dan muslimin terbenam dalam lautan darah.
Apakah belum sampai waktunya bagi kita untuk terjaga….?

Friday, December 08, 2006

poligami????





08 Desember 2006Prof Dr M Quraish Shihab:
Ibarat Emergency Exit di Pesawat

Sejak lama istilah poligami, jumlah yang tidak sedikit dari perempuan yang
berhak digauli, sudah dikenal dalam kehidupan manusia. Tidak hanya di
kalangan masyarakat Arab Jahiliyah tapi juga negara-negara Eropa seperti di
Jerman, Swiss, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia hingga Inggris. Islam
membolehkan poligami berdasar firman Allah SWT pada Alquran surat Nisa (4)
ayat 3. Namun demikian, bukan berarti ayat itu membuka lebar-lebar pintu
poligami tanpa batas dan syarat, tetapi dalam saat yang sama ia tidak juga
dapat dikatakan menutup pintunya rapat-rapat, sebagaimana dikehendaki
sementara orang.

''Poligami itu bukan anjuran, tetapi salah satu solusi yang diberikan kepada
mereka yang sangat membutuhkan dan memenuhi syarat-syaratnya. Poligami mirip
dengan pintu darurat dalam pesawat terbang yang hanya boleh dibuka dalam
keadaan emergency tertentu,'' tandas Quraish kepada Damanhuri Zuhri
dari Republika di ruang kerjanya Pusat Studi al Quran (PSQ) Ciputat
Tangerang Selasa (5/12). Berikut ini penjelasan lengkap tentang apa dan
bagaimana poligami menurut Islam:

Kapan istilah poligami mulai muncul?
Poligami telah dikenal oleh masyarakat manusia, yaitu hubungan dengan
perempuan yang berhak digauli dengan jumlah lebih dari satu. Dalam
Perjanjian Lama misalnya, disebutkan bahwa Nabi Sulaiman AS memiliki tujuh
ratus 'istri' bangsawan dan tiga ratus gundik. Poligami meluas di samping
dalam masyarakat Arab Jahiliyah juga pada bangsa Ibrani dan Sicilia yang
kemudian melahirkan sebagian besar bangsa Rusia, Lithuania, Polandia, dan
sebagainya.

Bagaimana pandangan Islam tentang poligami?
Islam membolehkan poligami berdasar firman Allah dalam QS an-Nisa' ayat 3
yang artinya: ''Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap
perempuan (yatim), maka nikahilah yang kamu senangi dari perempuan-perempuan
(lain): dua-dua, tiga-tiga atau empat-empat. Lalu jika kamu takut tidak akan
dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak perempuan yang kamu
miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.''
Ayat ini turun berkaitan dengan sikap sementara pemelihara anak yatim
perempuan yang bermaksud menikahi mereka karena harta mereka tapi enggan
berlaku adil.

Pada ayat tersebut disebutkan adanya syarat berlaku adil, bisa dijelaskan?
Dalam ayat tersebut terdapat kata khiftum yang biasa diartikan takut, yang
juga dapat diartikan mengetahui, menunjukkan bahwa siapa saja yang yakin
atau menduga keras atau bahkan menduga tidak akan berlaku adil terhadap
istri-istrinya yang yatim maupun yang bukan, maka mereka tidak diperkenankan
oleh ayat tersebut untuk berpoligami. Yang diperkenanakan berpoligami
hanyalah yang yakin atau menduga keras dapat berlaku adil. Yang ragu, apakah
bisa berlaku adil atau tidak, seyogyanya tidak berpoligami.

Ada yang menyebutkan ayat tersebut merupakan perintah untuk berpoligami
karena adanya fi'il amr (kata kerja perintah, red)?
Ayat ini tidak menganjurkan apalagi mewajibkan berpoligami, tetapi ia hanya
berbicara tentang bolehnya poligami. Poligami dalam ayat itu merupakan pintu
kecil yang hanya dapat dilalui oleh siapa yang sangat membutuhkan dan dengan
syarat yang tidak ringan. Islam mendambakan kebahagiaan keluarga,
kebahagiaan yang antara lain didukung oleh cinta kepada pasangan. Cinta yang
sebenarnya menuntut agar seseorang tidak mencintai kecuali pasangannya.

Kira-kira apa yang melatarbelakangi seseorang berpoligami?
Bukankah kenyataan menunjukkan bahwa jumlah lelaki lebih sedikit dari jumlah
perempuan?
Bukankah rata-rata usia perempuan lebih panjang dari usia lelaki, sedang
potensi masa subur lelaki lebih lama daripada potensi masa subur perempuan?
Hal ini bukan saja karena mereka mengalami haid, tapi juga karena mereka
mengalami manopouse sedang lelaki tidak mengalami keduanya. Bukankah
peperangan yang hingga kini tidak kunjung dapat dicegah lebih banyak
merenggut nyawa lelaki daripada nyawa perempuan? Maka poligami ketika itu
adalah jalan keluar yang paling tepat. Namun sekali lagi perlu diingat
poligami bukanlah anjuran apalagi kewajiban. Seandainya ia anjuran, pasti
Allah SWT menciptakan perempuan lebih banyak empat kali lipat dari jumlah
laki-laki, karena tidak adanya menganjurkan sesuatu kalau apa yang
dianjurkan tidak tersedia. Ayat ini hanya memberi wadah bagi mereka yang
mengingingkannya, ketika menghadapi kondisi atau kasus tertentu. Poligami
mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang, yang hanya boleh dibuka
dalam keadaan emergency tertentu.

Bagaimana dengan anggapan berpoligami adalah sunnah Rasul?
Tidak bisa dikatakan bahwa Rasul SAW menikahi lebih dari satu perempuan dan
pernikahan semacam itu hendaknya diteladani. Karena, tidak semua apa yang
dilakukan Rasul SAW perlu diteladani sebagaimana tidak semua yang wajib atau
terlarang bagi beliau, wajib atau terlarang pula bagi umatnya. Bukankah
Rasul SAW antara lain wajib bangun shalat malam dan tidak boleh menerima
zakat? Bukankah tidak batal wudlu beliau bila tertidur? Selanjutnya perlu
dipertanyakan buat mereka yang beranggapan poligami adalah sunah Rasul SAW.
''Apakah benar mereka benar-benar ingin meneladani Rasul SAW dalam
pernikahannya?''

Kalau benar demikian, maka perlu mereka sadari Rasul SAW baru berpoligami
setelah pernikahan pertamanya berlalu sekian lama setelah meninggalnya
Khadijah RA. Kita ketahui Rasul SAW menikah dalam usia 25 tahun, 15 tahun
setelah pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah RA, beliau diangkat
menjadi Nabi. Istri beliau ini wafat pada tahun ke-10 kenabian Beliau. Ini
berarti beliau bermonogami selama 25 tahun. Lalu setelah tiga atau empat
tahun sesudah wafatnya Khadijah RA, baru beliau menggauli Aisyah RA yakni
pada tahun kedua atau ketiga Hijriyah, sedang beliau wafat dalam tahun ke-11
Hijriyah dalam usia 63 tahun.

Ini berarti beliau berpoligami hanya dalam waktu delapan tahun, jauh lebih
pendek daripada hidup bermonogami beliau, baik dihitung berdasar masa
kenabian lebih-lebih jika dihitung seluruh masa pernikahan beliau. Jika
demikian, maka mengapa bukan masa yang lebih banyak itu yang diteladani?
Mengapa mereka yang bermaksud meneladani Rasul SAW itu tidak meneladaninya
dalam memilih calon-calon istri yang telah mencapai usia senja? Semua istri
Nabi SAW selain Aisyah adalah janda-janda yang berusia di atas 45 tahun? Di
samping itu, mengapa mereka tidak meneladani beliau dalam kesetiaannya yang
demikian besar terhadap istri petamanya, sampai-sampai beliau menyatakan
kecintaan dan kesetiaannya walau di hadapan istri-istri beliau yang lain?

Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di :
http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=274808

&kat_id=105

Yahoo Mesengger